02 Februari 2012

IKHLAS MEMBERI SESAMA KITA....

Menerima sesuatu tentu lebih mudah dibandingkan memberi. Seperti itu pula sebuah pepatah mengatakan“tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah”. Berada di posisi “diatas” adalah lebih mulia. Maka mulialah orang-orang yang senantiasa membiasakan diri untuk memberi. Memberi sesuatu kepada orang lain adalah sesuatu yang berat. Sementara dalam kehidupan seharian kita senantiasa dituntut untuk memberi. Baik dari sudut tuntunan agama, maupun pertimbangan tuntutan hidup sosial.

Memberi sesuatu kepada orang lain boleh berupa apa saja. Harta benda, jasa, atau sekadar senyuman tulus ikhlas. Islam merupakan agama senantiasa menekankan untuk kita memberi kerana ia merupakan salah satu bentuk ibadah. Memberi sesuatu kepada orang lain juga merupakan salah satu cara membangunkan jaringan hablun minal annas dan menciptakan silaturrahim. Memberi menjadi suatu penyeimbang dalam kehidupan sosial secara moral maupun material.

Bersedekah, berinfaq, berzakat, memberi hadiah dan bantuan jasa adalah cabang-cabang yang wujud dari konsep memberi. Sukarela, tulus, redha, ikhlas adalah sesuatu yang harus disertakan dalam konsep “memberi” agar ia bernilai, baik secara sosial maupun spiritual. Sehingga sebahagian orang menganggap percuma suatu pemberian jika tidak dilandasi dengan hati ikhlas.

Sebenarnya bagaimanakah ikhlas itu? Jika melihat pengemis di pinggir jalan, lalu memberinya sejumlah wang atau apa saja yang ada pada kita atas dasar rasa belas dan kasihan misalnya,itu adalah satu tindakan yang sangat berperikemanusiaan, namun belum tentu pemberiaan kita termasuk dalam kategori ikhlas. Memang terkadang kita mengenal ‘ikhlas’ atau kerelaan hati wujud akibat reflection dari rasa belas atau kasihan.

Seorang ilmuan mengatakan bahawa memberi sesuatu lantaran adanya sebab, seperti kasihan, prihatin, hiba dsb, itu belum tentu dikategorikan sebagai ikhlas.Ia tidak lebih hanya sebagai suatu bentuk kerelaan atau ketulusan hati saja yang dapat menjadi sebagai pemuasan hawa nafsu, ego kasihan atau ego hiba kita sahaja.

Berlaku ikhlas memang berat. Jika dalam memberi sesuatu,masih mudah dan ringan, bererti kita belum masuk dalam kategori ikhlas, tapi baru sekadar rela atau tulus. Dalam memberi sesuatu kepada orang lain terkadang muncul rasa berat dalam hati kita karena berbagai faktor dan alasan. Alasan itu mungkin disebabkan kurangnya biaya hidup, Tanggal tua, Lagi membutuhkan. Namun tetap saja mencuba menyisihkan untuk memberi meskipun sedikit, karena dilandasi semata-mata atas nama Tuhan. Dan rasa berat itu kita ikhlas-kan meskipun masih terkesan disabar-sabarkan. Inilah yang lebih dimaksudkan sebagai ikhlas. Sekali lagi karena dia berat.

Ada perbedaan antara ikhlas dan tulus. Ikhlas itu, merelakan sesuatu yang terasa berat. Tulus itu adalah kerelaan hati karena faktor adanya rasa senang atau tidak ada beban. Ikhlas memiliki kedudukan atau derajat yang tinggi di mata Tuhan. Sehingga salah-lah orang yang mengatakan: percuma saja melakukan ini-itu jika tidak ikhlas. Persepsi orang selama ini terbalik, jika orang terlihat berat membantu atau memberi sesuatu disebut ‘tidak ikhlas’ dan begitu pula sebaliknya.

Berbuat ikhlas meskipun berat, seorang mukhlissenantiasa dilandasi dengan nama Sang Maha Pencipta.Ikhlas merupakan solusi positif menghadapi kondisi bangsa yang seringkali ditimpa oleh berbagai bencana, yang diakibatkan oleh campur tangan manusia sendiri. Melalui bencana ini pun kita masih digebleng oleh Tuhan untuk menjadi orang yang ikhlas dalam menerima segalanya. Termasuk di dalamnya ikhlas memberi bantuan kepada korban banjir misalnya. Bencana pada bangsa ini telah membuka lebar bagi penduduknya untuk berlaku ikhlas. Semoga kita termasuk orang-orang yang ikhlas.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan